Selasa, 26 Mei 2009

LAHAN BASAH DANAU TOBA "SUMATRA UTARA"

Menurut Ramsar, “lahan basah merupakan daerah rawa, payau, lahan gambut dan perairan, baik alami maupun buatan tetap atau sementara dengan air tergenang atau mengalir, air tawar, payau, asin dan perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari 6 meter pada waktu air surut paling rendah”. Wetland atau lahan basah merupakan wilayah seperti, daerah rawa, payau, lahan gambut dan perairan contoh lahan basah yang terdapat di Indonesia adalah kawasan laut, kawasan muara, kawasan rawa, kawasan danau dan kawasan sungai. Banyaknya lahan basah yang terdapat di Indonesia merupakan sumber daya alam yang patut di syukuri yang memiliki fungsi dan manfaat antara lain, sebagai habitat, sebagai pengatur fungsi hidrologi, untuk menjaga kualitas air, sebagai pencegah bencana alam. Sebagai sumber daya alam hayati, penghasil energi, sarana transportasi, rekreasi dan pariwisata serta sarana penelitian dan pendidikan.
Data yang dikeluarkan LIPI menyebutkan Indonesia memiliki sungai, danau, dan rawa yang diperkirakan luasnya 13,85 juta hektar terdiri dari 120 juta ha sungai dan paparan banjir, 1,8 juta ha danau alami, dan 0,05 juta ha danau buatan. Sementara itu, jumlah sungai mencapai 5.590 sungai utama dengan panjang total 94.573 km. Danau di Indonesia mencapai 840 danau, 735 situ, dan 162 waduk. Ternyata seluruh perairan darat yang menjadi bagian dari lahan basah itu berfungsi sebagai penyimpan dan penangkap karbon. Lebih fantastis lagi, lahan basah juga merupakan penyangga dampak anomali cuaca dan iklim. Karena kemampuannya menyerap air dan memasok air saat musim kemarau.
Dengan demikian, potensi lahan basah di wilayah Indonesia sebagai gudang karbon sangat besar. Terlebih dari sekitar 37 juta ha lahan basah di Indonesia, 20 juta ha di antaranya berupa rawa gambut yang berfungsi sebagai penyimpan karbon. Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa sekitar 70% permukaan bumi ini tertutupi oleh air. Seperti halnya energi, air adalah hal yang esensial bagi pertanian, industri, dan hampir semua kehidupan. Jumlah air di permukaan bumi ini secara keseluruhan relatif tetap. Air akan selalu ada karena air bersirkulasi tidak pernah berhenti dari atmosfir ke bumi dan kembali ke atmosfir mengikuti siklus hidrologi. Persebaran air di muka bumi terbagi ke dalam beberapa bagian. Diantaranya air yang tergenang di permukaan bumi, yang kita kenal dengan danau. Danau adalah sebuah cekungan di muka bumi dimana jumlah air yang masuk lebih besar dari air yang keluar. Danau mendapatkan air dari curahan hujan, sungai, dan air tanah, ketiga sumber tersebut bersama-sama dapat mengisi dan memberikan suplai air pada danau. Danau adalah cekungan besar di permukaan bumi yang digenangi oleh air bisa tawar ataupun asin yang seluruh cekungan tersebut dikelilingi oleh daratan.
Secara geografis letak danau toba Sumatra utara 2 27’57.04” lintang utara dan 98 52’33.68” bujur timur, dengan luas danau 495.755 ha dan panjang jalur 224,81 km merupakan danau tektonik-vulkanik karena terjadi berdasarkan gempa tektonik dan vulkanik karena letusan gunung berapi. Danau toba yang mengitari Pulau Samosir terletak di kecamatan silahi sabungan kabupaten samosir, terbentuk oleh proses vulkanik dan tektonik ribuan tahun lampau dan menjadikan wilayah tersebut sebagai “Heritage World”, salah satu harta warisan dunia, termasuk karena kekayaan dan keunikan warisan budayanya. Danau toba memiliki pulau yaitu pulau samosir secara umum tipologinya adalah berbukit, bergelombang, miring dan terjal. Hanya delapan persen dari luas wilayahnya datar dengan tingkat kemiringan 0 sampai 2 derajat dan semuanya terletak pada dataran tinggi (800 – 1800 meter dpl). Luas wilayah Kabupaten Samosir 206.905 ha, terdiri dari daratan 144.425 ha dan luas perairan Danau Toba adalah 495.755 ha. Terletak pada ketinggian 906 – 2.157 meter dpl, berada pada garis katulistiwa (20, 24’ s/d 20, 48’ Lintang Utara dan 980, 30’ s/d 990, 01’ Bujur Timur), digolongkan pada daerah beriklim tropis basah dengan tipe iklim C sampai E dan suhu berkisar antara 170 – 290 C serta kelembapan udara rata-rata 85,04 persen.
Kualitas perairan Danau Toba pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan manusia, terutama pemukiman penduduk, peternakan, pertanian, kegiatan industri pariwisata, kegiatan perindustrian dan perdagangan termasuk pasar, hotel dan restoran, serta kegiatan transportasi air. Pengaruh terpenting dari seluruh kegiatan tersebut adalah produksi sampah dan limbah yang secara langsung maupun tidak langsung masuk kedalam perairan Danau Toba. Sehingga salinitas atau larutan garam yang terkandung dalam air meningkat karena adanya limbah akibat kegiatan masyarakat di Daerah Tangkapan Air dan Daerah Resapan Bawah Permukaan Danau Toba pada Kecamatan Silahi Sabungan, secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kualitas air Danau Toba. Kegiatan perairan Danau Toba merupakan sumber pencemaran yang mempengaruhi kualitas air dan menimbulkan kerusakan lingkungan Kawasan Danau Toba. Penduduk yang bermukim di Kawasan Danau Toba, terutama yang tinggal di pinggir danau dengan berbagai kegiatannya, patut diduga menghasilkan berbagai macam limbah yang dibuang ke Danau Toba. Limbah dan kegiatan pemukiman/rumah tangga seperti : air cucian, tinja, sampah, kotoran ternak akan mempengaruhi kualitas air Danau Toba. Kegiatan industri ulos (home industry) juga menghasilkan limbah cair sisa zat pewarna yang dapat merusak kualitas air Danau Toba. Berbagai macam limbah tersebut selanjutnya akan meningkatkan kadar BOD, COD, dan bakteri di perairan. Peningkatan BOD mengakibatkan penurunan kadar oksigen terlarut (DO) dalam badan air, sehingga akan mempengaruhi biota pada perairan Danau Toba sehingga kehidupan biota perairan terganggu. Disamping itu limbah cair dari hotel, restoran /rumah makan yang dibuang keperairan danau akan mempengaruhi kadar Amoniak (NH3) pada perairan dan memberikan dampak negatif terhadap kegiatan perikanan.
Kegiatan pertanian merupakan kegiatan yang mendominasi Kawasan Danau Toba, sehingga secara tidak langsung mempengaruhi perairan Danau Toba. Kegiatan pertanian lahan kering dengan sistem perladangan berpindah, pengolahan lahan tanpa kaidah-kaidah konservasi sehingga dengan curah hujan yang tinggi akan meningkatkan erosi yang selanjutnya mengakibatkan perusakan lahan-lahan produktif. Lebih jauh bahan-bahan yang terbawa erosi akan menjadi sedimentasi dan pendangkalan danau. Kegiatan pertanian juga meliputi pemberian pupuk, pemberian pestisida, zat pengatur tumbuh (ZPT) dimana aplikasinya sering tidak tepat jenis, dosis, cara dan waktu. Dengan bantuan air hujan residu bahan-bahan tersebut mengalir bersama menuju danau. Kegiatan tersebut akan meningkatkan kadar pestisida dan bahan pencemar nitrogen, fosfor, kalium dan zat organik perairan Danau Toba. Kadar pestisida yang tinggi dapat mengganggu pemanfaatan air danau untuk air bersih dan perikanan. Sedang sisa penggunaan pupuk dapat mempengaruhi tingkat kesuburan air akibat penambahan unsur N, P, K (eutrofokasi).
Kegiatan ekonomi masyarakat di Kawasan Danau Toba yaitu mencari ikan yang menambah beban pencemaran akibat adanya limbah berupa sisa-sisa pakan yang tidak habis dikonsumsi ikan dan kotoran ikan itu sendiri. Selain itu juga mendorong terjadinya proses eutrofikasi. Proses eutrofikasi yang terjadi di lokasi-lokasi budidaya Keramba Jaring Apung, mendorong tumbuh berkembangnya tumbuhan eceng gondok dan hydrilla. Walaupun kualitas air Danau Toba saat ini masih tergolong baik, namun pengembangan Keramba Jaring Apung akan menambah beban perairan danau oleh karena sisa pakan ikan dan kotoran akan mencemari perairan.
Eceng gondok (Eichornia crassipes) merupakan tumbuhan pengganggu (gulma), tumbuhan terapung diperairan dan pertumbuhannya cepat. Eceng gondok berkembang biak dengan 2 (dua) cara yaitu dengan biji dan tunas (stolon). Suhu ideal untuk pertumbuhannya berkisar antara 280 – 300 C dengan drajat keasaman (pH) antara 4 – 12. Selain itu eceng gondok juga mempunyai kemampuan besar untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan keadaan lingkungan. Satu batang eceng gondok dalam waktu 52 hari mampu berkembang menjadi tanaman baru seluas 1 m2. Pada bagian-bagian perairan danau yang mengalami eutrofikasi, dekat pemukiman dan muara sungai yang airnya relatif keruh, dijumpai populasi eceng gondok yang sangat banyak. Selain itu dengan adanya tempat-tempat dimana ditemui populasi eceng gondok dapat menjadi habitat yang baik perkembangbiakan nyamuk malaria.
Hydrilla adalah termasuk gulma air yang tumbuh dibawah permukaan air, tidak kelihatan sehingga seolah-olah tidak ada pencemaran oleh gulma. Namun sebenarnya tumbuhan hydrilla sudah mencapai masalah di Danau Toba seperti halnya eceng gondok. Hydrilla tumbuh subur pada bagian tepi danau yang dangkal, berair jernih dan berpasir banyak serta dalam kondisi mengalami proses eutrofikasi. Pada bagian-bagian tepi danau yang populasi hydrillanya sudah banyak, dapat mengganggu kenyamanan orang yang berenang. Demikian pula perahu motor atau alat transportasi lainnya bisa menganggu perjalanannya karena terjebak oleh hydrilla yang membelit alat baling-balingnya.
Fungsi lingkungan perairan Danau Toba di Kecamatan Silahi Sabungan diperuntukkan dan dimanfaatkan sebagai sumber air untuk penyediaan air bersih, air industri, air pengairan pertanian, sebagai sumber daya pariwisata, sumber daya perikanan, sumber daya energi dan prasarana transportasi, tapi sekaligus sebagai penerima berbagai macam limbah. Pada dasarnya, lanjut Gatot, Danau Toba dirancang untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik, sumber air minum, mempunyai fungsi ekosistem yang optimal, flora dan fauna pun bisa hidup di wilayah itu, aman untuk kawasan berenang, dan menyumbang suhu udara yang sejuk, bersih dan sehat


Tidak ada komentar:

Posting Komentar